Harga Emas Batangan Menguat, Efek Buy The Dip?

3 Nov. 2026, 15.07 | Admin
Image

JNGOLD.ID - Harga emas batangan kembali naik pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Harga beli emas J&N Gold dibanderol Rp 2.446.000 per gram, menguat Rp 15.000 dari hari sebelumnya yang berada di Rp 2.431.000 per gram. Kenaikan serupa terjadi pada emas Logam Mulia Antam yang naik Rp 10.000, sementara Hartadinata Abadi menguat Rp 15.000 dari posisi sehari sebelumnya.

Penguatan di dalam negeri ini tidak lepas dari lonjakan harga emas dunia. Pada penutupan kemarin, emas di pasar spot berakhir di US$ 3.944,8 per troy ons, melonjak 1,78% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Sebelumnya, pada Jumat (30/10/2026), harga emas ditutup di US$ 3.875,8 per troy ons, yang tercatat sebagai level terendah dalam setahun terakhir. Level yang dianggap sudah murah ini tampaknya memancing pelaku pasar untuk memborong, atau yang populer disebut aksi bargain hunting.

Justin Lin, Strategist di Global X ETFs, membenarkan adanya pola tersebut. “Kami melihat ada aksi dip buying di pasar. Investor, dan mungkin sejumlah bank sentral, sepertinya akan menambah kepemilikan emas mereka. Namun, emas masih berada dalam posisi rawan,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg News. Pernyataan ini menunjukkan bahwa minat beli memang ada, tetapi pergerakan harga belum sepenuhnya aman dari tekanan.

Dari sisi geopolitik, kabar dari Timur Tengah ikut menjadi angin segar. Bloomberg News memberitakan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan pemerintahnya telah mendapat mandat dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk bernegosiasi demi mencapai perdamaian dengan Amerika Serikat. Kabar ini langsung menekan harga minyak. Brent ditutup anjlok 8,17% ke US$ 104,17 per barel pada perdagangan kemarin.

Turunnya harga minyak memunculkan harapan bahwa lonjakan harga energi bisa diredam. Jika tekanan inflasi mereda, bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve di AS, tidak perlu terlalu agresif menaikkan suku bunga acuan. Ini penting bagi emas karena logam mulia tergolong aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Saat suku bunga naik, memegang emas jadi kurang menguntungkan dibandingkan instrumen berbunga. Sebaliknya, ketika prospek kenaikan suku bunga mengendur, daya tarik emas ikut terdongkrak.

Bagi yang sedang mengincar emas batangan, pergerakan terbaru ini bisa menjadi bahan pertimbangan. Harga di level domestik masih mengikuti arah emas dunia, sementara faktor geopolitik dan kebijakan suku bunga akan terus menjadi penentu dalam beberapa waktu ke depan. Memantau perkembangan harga setiap hari tetap menjadi langkah bijak sebelum memutuskan waktu pembelian.