JNGOLD.ID - Harga emas dunia dan logam mulia domestik diperkirakan akan kembali menguat pada awal Januari 2026. Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, serta berbagai dinamika politik dan ekonomi internasional yang belum mereda.
Dikutip dari iNews, pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kondisi global saat ini mendorong investor untuk kembali memburu aset aman seperti emas. Situasi geopolitik yang tidak stabil berpotensi menciptakan lonjakan harga sejak pembukaan perdagangan awal pekan. Dalam proyeksinya, emas dunia memiliki peluang besar untuk mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan pertama Januari 2026.
Pada akhir pekan lalu, harga emas dunia tercatat berada di kisaran 4.332 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri berada di level Rp2.488.000 per gram. Untuk pergerakan ke depan, terdapat dua kemungkinan skenario. Jika terjadi koreksi jangka pendek dan harga emas dunia turun ke area 4.258 dolar AS, maka harga logam mulia domestik berpotensi terkoreksi ke sekitar Rp2.458.000 per gram. Namun, skenario penguatan dinilai lebih dominan, di mana emas dunia diprediksi melonjak hingga 4.426 dolar AS dan mendorong harga logam mulia ke level Rp2.518.000 per gram.
Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar. Sejumlah peristiwa internasional besar terjadi hampir bersamaan di awal tahun, mulai dari konflik Rusia-Ukraina yang kembali memanas, ketidakstabilan di Timur Tengah, hingga eskalasi politik di Amerika Latin. Perhatian pasar tertuju pada langkah militer Amerika Serikat terhadap Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Nicolas Maduro, yang memicu kecaman dari berbagai negara dan meningkatkan risiko geopolitik global.
Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, situasi politik juga memanas. Keputusan sepihak Presiden Donald Trump yang dinilai melampaui kewenangan Kongres berpotensi memicu ketegangan politik internal. Kondisi ini menambah ketidakpastian global dan memperkuat minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Dari sisi kebijakan moneter, dukungan terhadap harga emas juga datang dari langkah Bank Sentral Amerika Serikat yang kembali menggelontorkan stimulus besar melalui program pembelian obligasi. Kebijakan ini meningkatkan likuiditas pasar dan secara historis cenderung mendorong kenaikan harga emas.
Meski terdapat sentimen positif dari pemulihan ekonomi China pascakrisis properti, ketegangan geopolitik global dinilai masih menjadi faktor dominan. Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset safe haven utama yang dicari investor untuk menjaga nilai kekayaan mereka.