JNGOLD.ID - Pasar logam mulia mengawali pekan ini dengan dinamika yang cukup mengejutkan. Setelah sempat mencatat kenaikan dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan harga logam mulia kini cenderung berbalik arah dan diperkirakan akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Penurunan ini memicu kewaspadaan bagi para investor yang tengah mengamati situasi geopolitik di Timur Tengah dan rilis data ekonomi global.
Berdasarkan data dari Refinitiv, harga emas di pasar spot pada Senin (20/04/2026) pagi pukul 06.27 WIB tercatat melorot sebesar 1,23% ke angka US$ 4.769,13 per troy ons. Angka ini menunjukkan pembalikan arah yang tajam setelah pada Jumat pekan lalu emas masih bertengger manis di posisi US$ 4.828,3 per troy ons.
Pelemahan ini memaksa emas keluar dari zona aman di atas level psikologis US$ 4.800 per troy ons. Padahal, jika ditarik dalam sepekan terakhir, emas sebenarnya sudah mencatatkan kenaikan kumulatif sebesar 1,7%.
Secara teori, ketegangan di Timur Tengah biasanya membuat emas diburu sebagai aset aman (safe haven). Namun, kali ini ada faktor pengganggu utama, yaitu lonjakan harga minyak mentah.
Harga minyak jenis WTI melonjak drastis hingga 6,9% ke level US$ 89,61 per barel, sementara Brent naik 5,6% ke US$ 95,49 per barel. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran baru akan naiknya inflasi global. Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diprediksi akan menahan suku bunga di level yang tinggi untuk waktu lebih lama.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi global. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral Amerika Serikat menunda rencana pemangkasan suku bunga. Harapan akan suku bunga yang lebih rendah sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas, sehingga perubahan ekspektasi ini langsung memberikan tekanan pada logam mulia.
Kondisi ini diperparah dengan menguatnya indeks dolar AS ke level 98,24. Karena emas dihargai dalam dolar, kenaikan nilai tukar Greenback membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga minat beli pun cenderung menyusut.
Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah mencermati berbagai data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti penjualan ritel, sektor perumahan, hingga tingkat kepercayaan konsumen. Data aktivitas bisnis awal melalui PMI manufaktur dan jasa dari negara-negara besar juga menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran arah ekonomi global ke depan.
Faktor geopolitik turut menambah ketidakpastian. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berakhir pada 22 April berpotensi memicu kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini bisa memengaruhi pergerakan harga komoditas, termasuk emas dan minyak.
Sementara itu, berbeda dengan emas yang murni tertekan dolar, perak masih mendapatkan sedikit dukungan dari sektor industri. Proyeksi defisit pasokan perak yang diperkirakan berlanjut tahun ini, ditambah sentimen positif dari komoditas tembaga, memberikan bantalan agar harga perak tidak merosot terlalu dalam.
Secara keseluruhan, pasar logam mulia saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Apakah penurunan ini hanya koreksi sesaat atau awal dari tren pelemahan baru, sangat bergantung pada bagaimana data ekonomi AS dan tensi di Timur Tengah berkembang dalam beberapa hari ke depan.