JNGOLD.ID - Harga emas dunia terjun bebas pada perdagangan Selasa (1/9/2026), menyentuh level terendah dalam hampir dua pekan terakhir. Di pasar spot, emas ditutup di US$ 4.327,6 per troy ons, anjlok 2,56% dibanding hari sebelumnya. Mengutip Reuters, harga emas spot bahkan tercatat turun 2,4% ke level 4.342,20 dollar AS per troy ounce pada penutupan perdagangan Selasa waktu New York, sementara emas berjangka AS melemah 1,9% ke 4.396,40 dollar AS per troy ounce.
Penyebab utama pelemahan ini adalah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield surat utang AS tenor 10 tahun melonjak ke 4,797%, tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan yield membuat emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi kurang menarik dibanding instrumen berbunga lainnya. Penguatan dollar AS turut memperberat tekanan karena membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Sentimen pasar juga masih dibayangi pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir pekan lalu. Warsh menegaskan bank sentral AS masih punya "pekerjaan yang harus diselesaikan" jika inflasi belum meyakinkan bergerak menuju target 2%. Pernyataan ini langsung mendongkrak ekspektasi kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4% pada rapat bulan ini melonjak ke 66,9%, jauh naik dari 39,6% seminggu sebelumnya. Anggota Dewan Gubernur The Fed, Michael Barr, turut mempertegas sinyal ini. "Jika inflasi tidak melambat signifikan, maka saya rasa kami harus bertindak tegas dengan menaikkan suku bunga," ujar Barr dalam sebuah acara di Washington, sebagaimana dikutip Bloomberg News.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan tekanan jual teknikal turut memperparah pelemahan setelah harga emas menembus rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar 4.528 dollar AS per troy ounce sejak 28 Agustus 2026. "Jalur dengan hambatan paling kecil saat ini kemungkinan adalah pergerakan mendatar atau cenderung turun untuk pasar emas dalam jangka pendek," katanya.
Secara teknikal harian, RSI 14 hari emas berada di 46, mengindikasikan tren bearish. Namun Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh titik 0, tanda oversold ekstrem, membuka peluang rebound jangka pendek. Support terdekat ada di US$ 4.312/troy ons, dengan risiko lanjutan ke US$ 4.216/troy ons jika tertembus. Sementara jika berbalik naik, pivot point di US$ 4.440/troy ons menjadi kunci menuju target US$ 4.459-4.487, bahkan hingga US$ 4.566/troy ons dalam skenario paling optimistis.
Bagi yang berencana membeli emas batangan, momen koreksi harga seperti ini kerap dimanfaatkan sebagai peluang membeli di harga lebih rendah, mengingat emas tetap menjadi instrumen lindung nilai jangka panjang di tengah ketidakpastian suku bunga dan geopolitik global.