JNGOLD.ID - Pasar emas global tengah mengalami fenomena yang cukup unik dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus memanas, harga logam mulia justru menunjukkan tren pelemahan. Fenomena ini tergolong tidak biasa karena secara tradisional emas selalu dianggap sebagai aset lindung nilai atau safe haven yang harganya menguat di tengah ketidakpastian, termasuk konflik internasional. Namun, saat ini peran tersebut tampaknya sedang tergeser oleh dinamika ekonomi makro yang lebih dominan, terutama terkait kebijakan suku bunga dan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat.
Penurunan harga ini terlihat cukup signifikan jika ditarik dari titik puncaknya. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sempat mendorong harga emas melonjak tajam pada awal Maret 2026. Saat itu, harga emas bahkan sempat menyentuh kisaran US$5.300 per troy ons. Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Dalam beberapa pekan setelahnya, harga emas justru berbalik arah dan mengalami penurunan hingga sekitar 15 persen, dengan posisi terbaru berada di kisaran US$4.500 per troy ons.
Para analis melihat ada beberapa faktor utama yang menekan harga emas. Lynn Song, yang merupakan kepala ekonom untuk kawasan Greater China di ING, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan bentuk koreksi atau penarikan kembali setelah harga mengalami reli yang dianggap terlalu panas sebelumnya. Salah satu beban berat bagi emas adalah kenaikan harga minyak dunia. Biasanya, kenaikan harga minyak akan mendorong inflasi dan menguntungkan emas, tetapi kali ini situasinya berbeda. Harga minyak yang tinggi justru membuat bank sentral bersikap lebih ketat dalam kebijakan moneternya, yang pada gilirannya merugikan emas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga.
Kondisi ini diperparah dengan keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang menunda pemotongan suku bunga. Pada pertemuan terakhir, The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen sambil memproyeksikan inflasi yang masih tinggi. Di saat yang sama, dolar Amerika Serikat justru semakin menguat dengan kenaikan lebih dari 2 persen sepanjang bulan ini. Karena emas diperdagangkan dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaannya cenderung menurun.
Meski demikian, para ahli seperti Tang Yuxuan dari J.P. Morgan Private Bank menilai bahwa fluktuasi harga yang tajam belakangan ini lebih disebabkan oleh meningkatnya partisipasi investor ritel sejak pertengahan tahun 2025, bukan karena perubahan mendasar pada nilai emas itu sendiri. Secara keseluruhan, penurunan ini dipandang sebagai koreksi jangka pendek. Dalam enam bulan terakhir, harga emas sebenarnya masih mencatat kenaikan total lebih dari 25 persen. Dengan adanya permintaan yang kuat dari bank-bank sentral dunia dan minat investor jangka panjang di Tiongkok yang tetap stabil, banyak lembaga keuangan seperti Union Bancaire Privee tetap optimis bahwa harga emas bisa kembali bangkit menuju target 6.000 dolar AS per ons pada akhir tahun nanti.
Dengan berbagai faktor tersebut, pelemahan harga emas saat ini lebih mencerminkan dinamika jangka pendek pasar, sementara prospek jangka panjangnya masih didukung oleh fundamental yang kuat.