Harga Emas Melesat Empat Hari Beruntun, Kesepakatan AS-Iran Jadi Pemicunya

17 Juni 2026, 16.40 | Admin
Image

JNGOLD.ID — Harga emas dunia kembali mencatat penguatan signifikan dan berhasil menguat empat hari berturut-turut. Kabar baik dari kawasan Timur Tengah, khususnya perkembangan menuju perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi bahan bakar utama reli logam mulia ini.

Pada perdagangan Selasa (16/6/2026), harga emas di pasar spot ditutup di level US$4.330,7 per troy ons, naik 0,49% dari hari sebelumnya. Ini sekaligus menjadi level tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir. Secara kumulatif selama empat hari penguatan tersebut, harga emas telah terkerek lebih dari 6% secara point-to-point.

Selat Hormuz Dibuka, Pasar Langsung Bereaksi

Salah satu katalis terbesar datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali. Pernyataan ini menyusul pengumuman kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik bersenjata sekaligus mencabut blokade maritim di kawasan tersebut. AS juga sepakat untuk membuka kembali akses ke pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pasar. Harga emas batangan sempat diperdagangkan di atas US$4.310 per ons setelah melonjak 2,2% pada sesi sebelumnya. Pada pukul 15.30 waktu New York, harga emas spot tercatat naik 0,6% ke level US$4.339,38 per ons. Logam mulia lainnya turut mengikuti tren positif ini, perak naik 0,4% ke US$70,3025 per ons, sementara platinum dan paladium juga berhasil menguat.

Analis: Hambatan Struktural Mulai Mereda

Alex Wolf, Kepala Strategi Makro dan Pendapatan Tetap Global di J.P. Morgan Private Bank, menilai kesepakatan AS-Iran sebagai katalis positif bagi emas. Menurutnya, banyak hambatan yang selama ini menekan harga emas mulai berkurang, antara lain harga energi yang tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, serta berkurangnya minat beli dari investor dan bank sentral di kawasan Timur Tengah.

Dengan meredanya tekanan-tekanan tersebut, Wolf memperkirakan pendorong struktural harga emas akan kembali menjadi sorotan pasar. Faktor-faktor seperti pembelian emas oleh bank sentral, diversifikasi portofolio dari dolar AS, serta permintaan yang solid dari Asia dan Timur Tengah dinilai akan kembali mengambil peran sebagai penggerak utama.

Perlu Dicatat: Emas Masih di Bawah Puncaknya

Meski penguatan empat hari ini terkesan impresif, perlu diingat bahwa harga emas sebenarnya masih turun sekitar 18% dibanding posisinya sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Selama konflik berlangsung, pergerakan harga emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan harga minyak mentah.

Dinamikanya cukup sederhana: kenaikan harga energi mendorong inflasi, yang kemudian memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama. Kondisi suku bunga tinggi ini mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.

Namun kini, dengan harga minyak yang melanjutkan tren penurunan, imbal hasil obligasi pun ikut tertekan lebih rendah sehingga menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi emas.

Mata Pasar Tertuju ke Rapat The Fed

Ke depan, para pelaku pasar logam mulia sedang menantikan serangkaian keputusan bank sentral pekan ini. Yang paling dinantikan adalah pertemuan Federal Reserve AS, yang untuk pertama kalinya akan dipimpin oleh Ketua baru Kevin Warsh. Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini, sebuah faktor yang patut dipantau cermat oleh para pemegang dan calon pembeli emas.

Satu hal yang juga perlu disimak: meski optimisme damai AS-Iran sedang tinggi, sejumlah sekutu AS menunjukkan sikap lebih berhati-hati soal seberapa cepat arus pengiriman energi dan komoditas bisa kembali normal melalui Selat Hormuz. Artinya, volatilitas masih bisa mewarnai pergerakan harga dalam waktu dekat.