Harga Emas Tertekan di Tengah Konflik Geopolitik, Turun Lebih dari 12% Sejak Konflik Memanas!

6 April 2026, 10.41 | Admin
Image

JNGOLD.ID - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada awal pekan ini di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Logam mulia yang biasanya menjadi aset lindung nilai atau safe haven ini justru melemah, mencerminkan perubahan sentimen pasar yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor energi, inflasi, dan kebijakan global.

Penurunan harga emas terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meningkatkan retorika terhadap Iran, termasuk ancaman untuk menghancurkan fasilitas penting seperti pembangkit listrik. Pernyataan tersebut memperkeruh situasi yang sudah tegang, terlebih Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan memenuhi tuntutan AS untuk mengakhiri konflik. Bahkan, Teheran dilaporkan tetap melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Di pasar, harga emas sempat turun hingga 1,4% dan bergerak di bawah level US$4.610 per troy ons pada awal perdagangan. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari sesi sebelumnya yang juga mencatat penurunan sebesar 1,7%. Secara keseluruhan, harga emas telah merosot lebih dari 12% sejak konflik memanas pada akhir Februari lalu.

Pernyataan terbaru Trump melalui media sosial turut menambah ketidakpastian. Ia mengancam akan membawa konsekuensi besar jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak global. Selain itu, Trump juga mengisyaratkan adanya tenggat waktu tertentu tanpa memberikan rincian yang jelas, yang semakin membuat pelaku pasar bersikap hati-hati.

Di balik tekanan terhadap emas, terdapat faktor lain yang tidak kalah penting, yakni lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak global telah memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral, khususnya The Fed, menjadi berkurang. Padahal, suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil.

Tak hanya itu, daya tarik emas sebagai aset aman juga mulai memudar dalam jangka pendek. Dalam situasi pasar yang bergejolak, banyak investor memilih untuk mencairkan kepemilikan emas guna menutup kerugian di instrumen lain. Hal ini menambah tekanan jual di pasar emas.

Pada perdagangan pagi waktu Asia, harga emas spot tercatat turun sekitar 0,8% ke level US$4.637,60 per troy ons. Penurunan juga terjadi pada logam mulia lainnya, seperti perak yang melemah 1,5% ke US$71,95. Sementara itu, platinum dan paladium juga tidak luput dari tekanan.

Di sisi lain, indeks dolar AS justru menguat tipis, yang semakin membebani harga emas. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaannya cenderung menurun.

Ke depan, pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, arah harga energi, serta kebijakan moneter global. Selama ketidakpastian masih tinggi dan tekanan inflasi belum mereda, harga emas berpotensi tetap bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan dalam jangka pendek.