JNGOLD.ID - Belakangan ini, banyak masyarakat yang panik melihat angka dolar Amerika Serikat (USD) terus perkasa dan membuat rupiah tertekan sampai menyentuh level Rp18.100 pada Senin (13/07/26). Tentunya, fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari kombinasi berbagai faktor ekonomi dan geopolitik yang saling terkait. Lalu apa saja faktor-faktor tersebut? Kita Bahas di bawah ini, yuk.
Faktor paling besar di balik kekuatan dolar saat ini adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed. Saat ini suku bunga acuan AS dipertahankan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen, dan pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan lagi menjadi 3,75 sampai 4 persen. Ketika suku bunga tinggi, investor global tergiur menyimpan uang dalam bentuk dolar karena imbal hasilnya lebih menarik dibanding mata uang lain. Semakin besar peluang kenaikan suku bunga, semakin deras pula uang yang masuk ke aset berbasis dolar, dan hal inilah yang membuat nilainya terus naik.
Selain suku bunga, inflasi Amerika Serikat yang masih membandel turut menjadi pendorong utama. Inflasi inti AS, yang biasa disebut core PCE, tercatat masih berada di atas target ideal The Fed sebesar 2 persen. Selama inflasi belum benar-benar terkendali, The Fed cenderung mempertahankan kebijakan ketat atau bahkan menaikkan suku bunga lagi. Sikap hati-hati semacam ini pada akhirnya memperkuat ekspektasi pasar terhadap dolar sebagai mata uang berimbal hasil tinggi yang tetap menarik untuk dipegang investor.
Penguatan dolar juga tidak lepas dari pelemahan mata uang lain, terutama yen Jepang. Meski Bank of Japan sudah menaikkan suku bunga acuannya, selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang masih cukup lebar sehingga investor lebih memilih menjual yen dan berpindah ke dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menggiurkan.
Di sisi lain, ketidakpastian global juga memainkan peran penting. Dolar dikenal sebagai mata uang safe haven, alias tempat berlindung ketika situasi dunia sedang tidak menentu. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, gejolak harga minyak, hingga aksi jual di pasar saham teknologi membuat investor global cenderung menarik dana dari aset berisiko dan memarkirnya di dolar. Semakin tinggi ketidakpastian yang dirasakan pasar, semakin besar pula permintaan terhadap mata uang ini.
Tidak ketinggalan, derasnya investasi ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan di Amerika Serikat juga ikut menopang permintaan dolar, sebab dana asing yang masuk ke saham-saham teknologi otomatis membutuhkan dolar sebagai alat tukarnya.
Bagi Indonesia, penguatan dolar ini membawa dampak yang cukup terasa. Rupiah tertekan, barang-barang impor menjadi lebih mahal, biaya produksi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri ikut naik, dan pada akhirnya dapat memicu inflasi di dalam negeri. Bank Indonesia sendiri terus berupaya menjaga stabilitas melalui cadangan devisa dan berbagai kebijakan moneter. Dengan memahami faktor-faktor di balik penguatan dolar ini, kita bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan, terutama bagi yang memiliki kebutuhan transaksi dalam mata uang asing.
Menariknya, penguatan dolar ini juga ikut menyeret turun harga emas dunia yang belakangan bergerak melemah dari level rekor tertingginya. Sebab utamanya cukup sederhana, emas diperdagangkan secara global dalam denominasi dolar, sehingga ketika dolar menguat, harga emas otomatis menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap emas pun cenderung melemah dan harganya tertekan. Selain itu, suku bunga acuan yang masih tinggi turut memperberat posisi emas, sebab emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau dividen.
Ketika instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, banyak investor memilih mengalihkan dananya ke sana ketimbang menahan emas, sehingga permintaan logam mulia ini pun ikut menyusut. Kondisi ini turut memengaruhi harga emas di dalam negeri, termasuk harga patokan ekspor dan harga emas batangan yang ikut bergerak turun mengikuti tren pelemahan harga emas dunia serta menguatnya kurs dolar terhadap rupiah.
Meski begitu, ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda membuat sebagian investor tetap menahan emas sebagai aset safe haven, sehingga penurunan harganya pun tidak berlangsung terlalu dalam. Beberapa lembaga keuangan besar bahkan masih memproyeksikan harga emas berpotensi kembali menguat dalam jangka menengah, seiring meningkatnya pembelian emas oleh bank-bank sentral dan permintaan fisik yang didorong faktor struktural.
Dengan memahami faktor-faktor di balik penguatan dolar dan keterkaitannya dengan pergerakan harga emas ini, kita bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan, terutama bagi yang memiliki kebutuhan transaksi dalam mata uang asing maupun yang sedang mempertimbangkan investasi emas.