JNGOLD.ID - Harga emas dunia ditutup di US$ 3.994 per troy ons pada Jumat (23/10/2026). Angka itu turun 0,77% dari hari sebelumnya dan menjadi level terendah sejak 16 Juli, atau lebih dari tiga bulan terakhir. Sepanjang pekan lalu, emas terkoreksi 4,14% secara point-to-point, penurunan mingguan terdalam sejak awal Juni.
Tekanan datang dari dua arah sekaligus: harga minyak dan arah suku bunga. “Harga emas terseret turun akibat kekhawatiran seputar harga minyak dan arah suku bunga acuan. Arus modal sedang negatif, dengan aksi jual yang tinggi,” kata Ryan McKay, Commodity Strategist di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung reda mendorong harga minyak brent melonjak 6,24% sepanjang pekan lalu. Mahalnya energi menjaga ancaman inflasi tetap hidup, sehingga bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve di Amerika Serikat, sulit menghindari pengetatan moneter lewat kenaikan suku bunga acuan.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 4-4,25% pada rapat Oktober hanya 9,4%. Namun untuk pertemuan Desember, peluangnya melonjak ke 72,1%.
Situasi ini menekan emas karena logam mulia tergolong aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga tinggi, menyimpan emas menjadi kurang menguntungkan dibanding instrumen yang memberi bunga. “Kami masih dalam posisi berhati-hati dalam waktu dekat. Aksi jual massal terbaru menjadi cermin bahwa risiko inflasi masih menghantui,” ujar Christopher Wong, Analis Oversea-Chinese Banking Corp, juga dikutip dari Bloomberg News.
Secara teknikal pada kerangka waktu mingguan, emas masih berada di zona bearish. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 38, dan nilai di bawah 50 menandakan tekanan jual masih dominan. Di sisi lain, Stochastic RSI 14 hari berada di 11, di bawah 20, yang berarti emas sudah masuk wilayah jenuh jual (oversold). Kondisi ini membuka ruang bagi harga untuk memantul.
Untuk perdagangan pekan ini, emas berpeluang naik. Pivot point berada di US$ 4.054 per troy ons. Jika level ini berhasil ditembus, harga berpotensi menguji kisaran US$ 4.098 hingga US$ 4.239, dengan target paling optimistis di US$ 4.318.
Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, support terdekat ada di US$ 3.976 per troy ons. Jebol di titik ini berisiko menyeret harga ke US$ 3.917 hingga US$ 3.878, dengan target paling pesimistis di US$ 3.703.
Bagi yang berencana membeli emas batangan, koreksi dalam seperti ini bisa menjadi bahan pertimbangan, terutama karena indikator menunjukkan emas sudah jenuh jual. Meski begitu, arah suku bunga dan harga minyak masih akan menentukan pergerakan berikutnya, jadi pantau terus perkembangannya sebelum mengambil keputusan.