JNGOLD.ID - Belakangan ini, ada satu fenomena menarik yang terjadi di tengah masyarakat, yaitu meningkatnya minat masyarakat terhadap emas. Di berbagai kota, toko-toko emas ramai diserbu pembeli. Beberapa bahkan sampai kehabisan stok, dan tak jarang orang rela keliling dari satu toko ke toko lain demi bisa mendapatkan emas yang diincar bahkan dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar.
Dari ibu rumah tangga, anak muda, sampai pekerja kantoran, semua ramai-ramai membeli emas. Sekilas, ini terlihat sebagai tanda bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya investasi dan lindung nilai semakin tinggi. Tapi… apakah benar semua ini murni karena kesadaran finansial? Atau jangan-jangan... ini adalah efek FOMO yang sedang melanda?
Sebelum bahas lebih lanjut, kita bahas dulu apa itu FOMO, yuk!
FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut tertinggal tren atau momen yang dianggap menguntungkan. Dalam konteks investasi, FOMO bisa bikin seseorang terburu-buru ikut membeli aset hanya karena “semua orang lagi beli”, bukan karena ia benar-benar paham apa yang ia lakukan.
Di media sosial, banyak yang membagikan cerita “cuan besar dari emas”, atau berita tentang prediksi harga emas yang akan terus menerus naik. Tanpa sadar, hal-hal seperti ini bisa memicu rasa panik bagi masyarakat yang belum pernah atau belum mengenal nabung emas. Akhirnya, tanpa pikir panjang, banyak orang yang langsung membeli emas tanpa tahu tujuannya, cara kerjanya, atau strategi yang benar. Inilah bentuk nyata dari FOMO.
Beberapa contoh perilaku FOMO yang sering terjadi dalam kasus emas antara lain:
Beli karena ikutan tren, bukan karena kebutuhan atau perencanaan.
Langsung beli dalam jumlah besar, padahal belum paham risiko atau cara menjualnya kembali.
Tidak membandingkan harga, asal ada yang jual, langsung dibeli, meskipun lebih mahal dari harga asli keluaran brand tersebut.
Gak punya tujuan jelas, misalnya untuk apa emas itu disimpan, buat jangka panjang? Dana darurat? Atau cuma supaya “punya aja”?
Sebenarnya, nabung emas itu bagus asal dilakukan dengan sadar dan terencana. Supaya nggak terjebak FOMO, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
Pahami dulu fungsi emas sebagai investasi.
Emas bukan alat untuk cepat kaya. Emas lebih cocok untuk simpanan jangka menengah-panjang dan pelindung nilai terhadap inflasi.
Tentukan tujuan nabung emas.
Apakah untuk dana darurat, tabungan masa depan, biaya pendidikan, atau tujuan lain? Ini akan membantu kamu menentukan seberapa banyak yang harus disisihkan.
Beli emas secara bertahap.
Daripada beli besar-besaran saat harga naik, lebih baik menabung emas secara rutin (misalnya bulanan). Ini akan mengurangi risiko beli di harga puncak.
Jangan cuma ikut-ikutan.
Lakukan riset, bandingkan harga, dan pelajari tempat penyimpanan yang aman (seperti brankas pribadi atau layanan penyimpanan terpercaya).
Meningkatnya minat masyarakat terhadap emas memang patut diapresiasi. Tapi, akan lebih baik jika dibarengi juga dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran. Jangan sampai keputusan penting seperti investasi diambil hanya karena “semua orang lagi beli”. Karena saat kamu tahu apa yang kamu lakukan, kamu bukan cuma ikut tren karena FOMO tapi kamu sedang membangun masa depan yang lebih aman.
Yuk, jadi generasi yang bukan cuma ikutan tren, tapi juga melek finansial. Nabung emas, tapi dengan tujuan yang jelas dan langkah yang bijak.